Rating : ratings 0.0%

Nimotuzumab menarik perhatian pada 1st Asian Oncology Summit di Singapura, 3 – 5 April 2009

(16-Apr-2009)
Oleh: RAO
Sumber: 1st Asian Oncology Summit di Singapura
Print Preview
Nimotuzumab menarik perhatian pada 1st Asian Oncology Summit di Singapura,  3 – 5 April 2009Kalbe.co.id - 1st Asian Oncology Summit (AOS) 2009 diselenggarakan di Suntec Singapore International Convention & Exhibition Center, Singapura. Acara ini diselenggarakan bersama dengan 2nd South East Asian Oncology Forum & 3rd Singapore Society of Oncology Board Review. Pertemuan yang mencakup serangkaian kuliah paripurna meliputi berbagai topik kanker darah dan solid/padat. Terdapat enam kelas paralel yang membahas pelbagai topik seperti: kanker hemato-onkologi, kanker kepala dan leher, kanker gastrointestinal (saluran cerna), kanker payudara, kanker paru, dan kanker alat reproduksi wanita. Dalam event ini, bisa ditemui informasi mengenai perkembangan klinik terbaru di Asia dan juga terdapat banyak kesempatan untuk pertukaran ide dan pemikiran yang akan membantu para klinisi. Tak ketinggalan presentasi dari para ahli internasional terkemuka seperti Prof Harald zur Hausen (peraih hadiah Nobel).

Selama AOS berlangsung, para ahli onkologi berbagi pengalaman tentang usaha mereka menurunkan angka kesakitan serta menjalankan strategi pengobatan dalam berbagai jenis kanker. Diperkirakan di dunia ada 58,8 juta orang meninggal karena kanker pada tahun 2004 (WHO 2008). Di Asia Tenggara, pada tahun 2008 diperkirakan terdapat 1.589.000 kasus kanker (758.000 berjenis kelamin laki-laki dan perempuan 831.000 kasus), 1.072.000 kematian (557,000 laki-laki dan 515.000 perempuan). Pada pria, kanker yang paling sering terjadi adalah kanker paru yang diikuti oleh kanker mulut sedangkan pada wanita yang paling sering terjadi adalah kanker leher rahim diikuti dengan kanker payudara.

Dalam  salah satu diskusi panel, terdapat pembahasan mengenai pengobatan terkini kanker dengan kombinasi terapi target dengan pengobatan konvensional, dan terapi obat berjenjang sehubungan dengan  penyakit kanker yang disebabkan oleh keturunan (genetika). Terapi berjenjang telah mendorong kepuasan para ahli kanker dalam bidang pengobatan tumor darah dan organ / solid. Molekul kecil (tyrosine kinase inhibitors; TKIs) bersama zat biologik (monoclonal antibodies; mAb) telah dievaluasi dalam berbagai kombinasi dengan kemoterapi (CT) dan / atau radioterapi (RT). TKIs (gefitinib, imatinib, sorafinib, sunitinib) dan mAb (cetuximab, trastuzumab, bevacizumab, nimotuzumab) ternyata lebih bermanfaat untuk mengikat masing-masing sasaran dan terjadi peningkatan angka respons dalam perawatan. Beberapa percobaan klinis dengan terapi target telah menunjukkan peningkatan kemajuan progression-free survival (PFS) dan juga angka Overall Survival pada kanker payudara, kepala dan leher, dll. Sayangnya beberapa agen anti-EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) yang ada memiliki efek samping yang berat pada pasien kanker.

Selama acara berlangsung, nimotuzumab (telah dipasarkan di Indonesia dengan nama dagang TheraCIM®) mendapat banyak perhatian dari para ilmuwan dan onkologist dari berbagai belahan dunia karena "Affinity-optimizedTM" properti terhadap EGF receptor. Dr Rikrik Ilyas, direktur, Innogene-Kalbiotech, Singapura menjelaskan mengenai perkembangan dan efikasi pengobatan dari nimotuzumab dalam mengobati pelbagai tumor dengan ekspresi EGFR yang tinggi. Nimotuzumab adalah human monoclonal anti-EGFR antibodi yang memiliki angka toksik dan immunogenicity (kemampuan untuk menimbulkan reaksi imun/alergi) yang rendah. Nimotuzumab telah disetujui (approved) untuk perawatan  kanker nasofaring  (nasopharyngeal cancer/NPC),  kanker kepala dan leher (Squamous Cell Cancer of the Head and Neck/SCCHN) dan tumor jaringan otak (glioma). Kombinasi nimotuzumab dan radio therapy (RT) secara signifikan meningkatkan angka respon keseluruhan pada pasien-pasien NPC dan kanker-kanker tahap lanjut kepala dan leher lainnya.

Pada simposium satelit yang disponsori Innogene-Kalbiotech, Prof Mark Vincent dari University of Western Ontario, Kanada menjelaskan bahwa "efikasi/keberhasilan nimotuzumab pada perawatan tumor yang EGFR over-expressed sama dengan agen anti-EFGR yang lain, seperti: cetuximab dan panitumumab. Sehubungan dengan toksisitasnya, nimotuzumab hanya mengikat sel-sel tumor yang  ekspresi EGFR sangat tinggi (over expresif), sementara cetuximab dan panitumumab mengikat  semua jaringan yang EGFR expresif. Pengikatan nimotuzumab terhadap EGFR memerlukan ikatan yang bivalen, yang mana ini bisa terjadi jika konsentrasi EGFR meningkat. Sebaliknya, saat konsentrasi EGFR rendah, seperti pada jaringan sehat, cetuximab dan panitumumab masih terus/tetap berinteraksi secara kuat dengan EGFR melalui ikatan monovalen. Itulah sebabnya nimotuzumab tidak menyebabkan keracunan pada jaringan yang sehat.  Profil keamanan "affinity-optimizedTM" nimotuzumab telah menunjukkan keunggulan dibandingkan dengan terapi-terapi anti-EGFR mAbs yang lain. Kekurangan magnesium darah (hipomagnesium) yang hebat dan ruam kulit (skin rash) merupakan hal yang umum terjadi pada terapi dengan cetuximab dan panitumamab. Angka kejadian infeksi kulit (dermatitis) berat selama terapi radiasi telah dilaporkan pada pasien-pasien yang diterapi dengan cetuximab untuk pengobatan kanker kepala dan leher.


Hubungan yang positif antara adanya ruam kulit yang parah yang berhubungan dengan terapi, secara terus menerus telah diamati terhadap pemanfaatan agen anti-EGFT yang telah disetujui untuk penggunaan klinik. Temuan ini menunjukkan bahwa ruam mungkin berguna sebagai tanda keberhasilan menghambat EGFR. Oleh karenanya hal ini bisa digunakan untuk memandu para dokter menyesuaikan dosis pengobatan. Namun, tidak adanya ruam kulit dengan perawatan nimotuzumab menjadikan agen ini unik di antara kelas terapi anti-EGFR mAb.

 
Dalam pernyataan yang diberikan oleh Prof Randolph HJ, UCLA, "ruam tidak hanya tidak sedap dipandang, namun bagi pasien, sangat menyakitkan bahkan bisa menimbulkan infeksi serius. Saya mempunyai pengalaman dengan pasien yang memerlukan tindakan bedah segera (untuk pengaliran cairan nanah/abses) yang berhubungan dengan ruam-kulit-yang-disebabkan-oleh-EGFR. Penghambat EGFR dengan aktifitas antikanker  namun tanpa ruam kulit, bisa sangat menyenangkan pasien.”

Karenanya, nimotuzumab merupakan terapi yang menjanjikan pagi pasien-pasien dengan tumor jaringan epitel tingkat lanjut.

Asian Oncology Summit yang kedua, direncanakan akan diselenggarakan di Bali Indonesia, 9 – 11 April 2010.

Bookmark and Share

Related Articles: