Studi dilakukan pada 40 hewan (tikus) yang dikondisikan menderita retinopati dengan cara memaparkan mereka dengan oksigen 75 %. Eritropoietin rekombinan (n=23) atau PBS (phospate binding saline n = 17) disuntikkan ke tikus sebelum dan pada saat terpapar oksigen 75 % atau setelah kembali ke ruangan dengan udara normal. Efek dari suntikkan EPO pada hilangnya pembuluh darah dan pembentukan pembuluh darah baru (neovaskularisasi) selanjutnya dianalisa.
Dibandingkan dengan PBS ternyata pemberian suntikkan EPO dapat mencegah hilangnya pembuluh darah retina hingga 20 % (p<0,01), sedangkan suntikan EPO pada saat terjadinya paparan oksigen mampu mengurangi proses neovaskularisasi hingga 50 % (p<0,001) dan neovaskularisasi patologis hingga 30 % (p<0,02), sebaliknya suntikkan EPO setelah paparan oksigen tidak mengurangi risiko hilangnya pembuluh darah atau neovaskularisasi. Suntikkan EPO lebih awal ternyata secara nyata memberi perlindungan terhadap neuron retina akibat proses kematian sel (apoptosis). Perlindungan retina yang dilakukan EPO terjadi melalui peningkatan jumlah sel induk retina oleh sumsum tulang, termasuk sel induk endotel dan mikroglia yang dapat membantu memperbaiki kerusakan pembuluh darah.
Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa pemberian EPO secara lebih awal dapat mencegah hilangnya pembuluh darah retina dan menghambat proliferasi patologis, sedangkan sutikkan EPO yang terlambat tidak menunjukkan hasil yang nyata. Terapi EPO untuk kasus retinopati memberikan manfaat tetapi waktu pemberian menentukan hasil dari terapi EPO ini.