Studi yang dilakukan Stangier dan kolega ini merupakan studi pertama yang membandingkan secara langsung kedua jenis terapi tersebut untuk kasus SAD pada pasien rawat jalan. Tim peneliti melakukan studi pada dua pusat penelitian di Jerman - satu dikhususkan untuk CT, satunya lagi untuk IPT. Sebanyak 117 pasien dengan diagnosis utama SAD secara acak diminta untuk mengikuti 16 sesi CT (n=38) atau IPT (n=38), keduanya ditambah dengan 1 sesi penunjang, atau bergabung dalam kelompok wait-list (sebagai kontrol, n=41). Sejumlah 106 partisipan menyelesaikan seluruh sesi terapi atau fase wait-list tanpa perbedaan yang mencolok antar-kelompok.
Menurut para peneliti, baik CT maupun IPT menghasilkan pengurangan gejala SAD jauh lebih baik daripada tanpa terapi sama sekali (wait list) dan CT jauh lebih efektif dibanding IPT. Saat penilaian pada minggu ke-20 pasca-terapi, sebanyak 66% pasien yang menjalani CT menunjukkan perbaikan bermakna dalam konteks gejala-gejala fobia sosial, dibandingkan dengan 42% pasien yang menjalani IPT dan 7% pasien kelompok wait-list (kontrol). Pada follow-up setahun kemudian, CT tetap lebih unggul dibanding IPT, dengan persentase respons yang jauh lebih tinggi (68% vs 32%). Di samping itu, terapi tambahan di luar protokol cenderung lebih dibutuhkan oleh pasien-pasien kelompok IPT selama follow-up.
Superioritas CT atas IPT sebenarnya tidak pernah terduga oleh para peneliti. Mereka mengakui bahwa belum jelas komponen mana dalam CT yang bisa menghasilkan efek perbaikan yang lebih besar pada SAD dibanding IPT. Kenyataannya, kedua terapi tersebut berbeda (berkenaan dengan sasaran eksplisit perubahan psikoterapeutik) dan CT tampaknya berurusan dengan aspek-aspek yang lebih berhubungan dengan etiologi SAD. Ada pula anggapan bahwa problem interpersonal akan lebih mudah teratasi ketika terjadi perbaikan pada kondisi-kondisi yang mendasarinya, yakni kognisi disfungsional dan perilaku menghindar demi keamanan (safety avoidance behaviors).
Image adopted from www.social-dynamix.com