Dari total sebanyak 104 wanita premenopause dengan gejala infeksi saluran kemih tanpa komplikasi secara acak diberikan cefixime 400 mg sekali sehari selama 5 hari atau mendapatkan ciprofloxacin 250 mg/500 mg dua kali sehari selama 5 hari. Selanjutnya pasien dilakukan evaluasi pada hari ke-3 dan ke-5 (kunjungan ke-2) dan hari ke-28 setelah pengobatan selesai (kunjungan ke-3). Dari kunjugan ke-2, pasien yang mendapatkan cefixime menunjukkan secara bermakna terjadi eradikasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan pasien yang memperoleh ciprofloxacin yaitu masing-masing sebesar (95.9% vs 66.0%; P =.0002), yang berlanjut sampai hari ke-28 (94.7% vs 75.9%; P =.026). Terdapat juga kecenderungan bahwa cefixime lebih baik daripada ciprofloxacin baik dalam hal angka kesembuhan yaitu masng-masing sebesar (75.5% vs 58.1%; P =.07), dan perbaikan klinis dari pasien yaitu sebesar (93.9% vs 81.1%; P =.06).
Tingkat kekambuhan tidak berbeda bermakna diantara 2 kelompok (13,2% vs 19,4%, P =. 49). Namun, tingkat kegagalan lebih tinggi untuk pasien yang menerima ciprofloxacin dibandingkan dengan pasien yang menerima cefixime (6,1% vs 18,9%, P =. 06). dalam hal efek samping, efek samping yang paling umum (AE) pada kelompok cefixime adalah bakterial vaginosis (n=2), dan pada ciprofloxacin adalah adalah diare (n=7), vaginosis bakteri (n=2), urtikaria (n=1), dan pielonefritis (n=1).
Image adopted from http://www.squidoo.com/uti-symptoms-in-women