
Kalbe.co.id - Simposium
Clinical Epidemiology and Evidence-Based Medicine in Global Perspective berlangsung pada tanggal 27-28 November 2010 di Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali. Simposium ini merupakan event yang cukup besar karena dihadiri oleh peserta baik dari dalam maupun luar negeri (antara lain Belanda, Australia). Jumlah peserta yang hadir sekitar 200 orang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum serta para peneliti. Simposium diadakan secara paralel.
Pada hari pertama, simposium dimulai pada pukul 09.00. Topik yang dihadirkan bermacam-macam yaitu
Epidemiology of Infectious Diseases and Vaccine Development, Introduction to Evidence-Based Medicine, Introduction to Clinical Epidemiology, Teaching Evidence-Based Medicine to Graduate Students, Masterclass of Clinical Trials, dan Systematic Review and Meta-Analysis. Hampir semua topiknya menarik.
Topik
Teaching Evidence-Based Medicine to Graduate Students. Pertama-tama, disampaikan materi pendahuluan oleh Assoc. Prof. Geert van der Heijden, PhD (dari
Utrecht University, Belanda) mengenai
Evidence-Based Medicine (EBM). Dalam materinya, disampaikan bahwa
Evidence-Based Medicine is the integration of best research evidence with clinical expertise and patient value (Sackett et al) serta bahwa
the conscientious, explicit, and judicious use of current best evidence in making decisions about the care of individual patients (Guyat et al).
EBM dimaksudkan agar dokter dapat memberikan nasihat dan terapi terbaik pada pasiennya dan mencegah terjadinya penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Yang menarik, dari literatur tahun 2000, pada wawancara di 2 rumah sakit di New Haven pada 64 residen setelah mereka melakukan konsultasi sebanyak 401. Dari 280 pertanyaan yang diajukan saat konsultasi, hanya 80 pertanyaan (29%) yang dicari jawabannya dan hanya sekitar 30% yang terjawab. Sisanya tidak dijawab karena tidak memiliki waktu untuk mencari jawaban dan lupa dengan pertanyaan yang diajukan. Sumber jawabannya yaitu buku (30%), teman/rekan (17%), dan
research papers (21%). Apa yang menjadi permasalahannya yaitu begitu banyaknya informasi yang perlu dibaca. Di TRIALS terdapat 55 informasi per hari, MEDLINE 1400 informasi per hari dan BIOMEDICAL 5000 informasi per hari. Belum lagi bila informasinya bertentangan dengan literatur medis lain. Permasalahan lain yaitu hanya 15% dari semua intervensi pada pelayanan kesehatan yang didukung dengan evidence yang jelas dan hanya 21% dari teknologi diagnostik dan terapetik yang ditentukan oleh NIH yang berdasarkan evidence ilmiah.
Oleh karena itu, kita perlu menerapkan prinsip dan metode evidence-based medicine dimulai dari diri kita sendiri serta menggunakan panduan-panduan atau protokol. Proses dari EBM ini terdiri dari 5 tahap yaitu formulasi pertanyaan klinis, pencarian
evidence yang terbaik (validitas dan relevansi yang paling kuat), critical appraisal, integrasi
evidence dengan pengalaman dan harapan pasien, dan evaluasi terapi yang telah dilakukan.
Adapun tantangan untuk EBM adalah attitude kita sendiri (pertanyaan yang kritis), ability (kemampuan dalam mencari, menilai, merangkum, dan menerapkan
scientific evidence),
accessibility (sumber informasi), dan waktu (tidak akan pernah cukup).
Kemudian materi berikutnya disampaikan oleh Indah S. Widyahening, MD, MSc mengenai
Evidence-Based Case Reports: Methods of Design and Reporting. Dalam materinya, untuk
Evidence-Based Case Reports, evidence yang dicari bisa berupa etiologi, diagnosis ataupun terapi.
Ketentuan
Evidence-Based Case Reports (ECBR) yaitu maksimum 1.200 kata, maksimum 24 referensi, dan maksimum 4 ilustrasi (foto, tabel, gambar, dan lain-lain) serta summary box dengan 5 kalimat singkat yang menggarisbawahi hal-hal baru dan menarik.
Isi ECBR antara lain:
- skenario kasus klinik
- pertanyaan (ditentukan dari skenario kasusnya dengan PICO/DDO (domain= pasien, determinant= intervensi dan perbandingan, outcome)
- metode (strategi pencarian literatur dan critical appraisal)
- hasil (evaluasi dari hasil pencarian literatur)
- diskusi (poin-poin keunggulan dan kelemahan)
- kesimpulan (jawaban pertanyaan klinis)
Pada hari kedua, simposium dimulai pukul 08.30. Terdapat banyak materi yang menarik. Salah satunya yang disampaikan oleh Prof. dr. Ketut Suastika, PhD mengenai
Evidence-Based Practice in Travel Medicine. Bali merupakan tempat yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik dari luar maupun dalam negeri dan dari tahun ke tahun semakin meningkat jumlahnya. Yang paling banyak datang ke Bali adalah orang dari Australia. Oleh karena itu, Bali mengembangkan dan meningkatkan research productivity pada penyakit infeksi serta memperbaiki pelayanan kesehatan pada turis domestik dan internasional. Dilaporkan pula bahwa infeksi HIV juga terus meningkat yang mana faktor risikonya sekarang berubah menjadi orang dengan heteroseksual. Yang mengagetkan, ternyata terdapat kasus rabies di Bali dan kasus yang positif rabies dengan konfirmasi laboratorium adalah sebanyak 45 kasus. Tantangan yang dihadapi di Bali adalah munculnya penyakit infeksi baru (SARS, avian flu, swine flu), meningkatnya infeksi HIV, dan tantangan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan.
Materi yang disampaikan oleh dr. Ratna Sitompul, PhD adalah mengenai
Clinical Research Opportunity in Indonesia. Dikatakan bahwa di Indonesia, prevalensi penyakit menular dan tidak menular cukup tinggi. Penyebab utama kematian di Indonesia pada tahun 2007 antara lain stroke (15,4%), TB (7,5%), dan hipertensi (6,8%). Selain itu, Indonesia juga mengalami dual burden of malnutrition. Prevalensi anak dengan pertumbuhan terhambat cenderung mudah terkena infeksi dan anak obes berisiko tinggi terjadinya hipertensi dan diabetes melitus. dr. Ratna Sitompul, PhD juga menyampaikan 2 alasan mengapa penting untuk mengetahui masalah kesehatan di Indonesia antara lain karena dengan era globalisasi memungkinkan munculnya masalah kesehatan yang dihadapi oleh negara di seluruh dunia sebagai ancaman global. Oleh karena itu, dengan mengetahui masalah kesehatan di Indonesia dapat diketahui ancaman apa yang akan terjadi dan langkah-langkah yang bisa diambil. Alasan lainnya yaitu
clinical research bermanfaat dalam memperbaiki pelayanan kesehatan pada pasien. Contoh masalah kesehatan yang ada di Indonesia adalah demam Dengue, HIV/AIDS, HIV-tuberculosis.
Diabetes melitus juga masih menjadi masalah di Indonesia. Prevalensi penyakit diabetes akan meningkat dari 7 juta pada tahun 2010 menjadi 12 juta pada tahun 2030. Dengan demikian, kemungkinan untuk
clinical research di Indonesia sangat besar namun sayangnya masih terkait masalah dana. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk bisa mewujudkannya.
Adapun materi lain yang cukup menarik yaitu ”Advice to the Young Investigator”, dibawakan oleh Prof. J. C Stoof, PhD. Beliau menyampaikan 10 nasihat untuk para peneliti yang masih muda:
- Berusaha menjadi old scientist (maksudnya walaupun baru saja meneliti, berusahalah menjadi peneliti yang sudah lama meneliti).
- Berusaha menjadi peneliti yang baik (inquisitive, creative, hard working, intelligent, has social skill).
- Jangan manipulasi data.
- Mempublikasikan karyanya di jurnal yang tepat.
- Belajar lagi di universitas luar negeri yang bergengsi selama 1 atau 2 tahun.
- Simpan referensi yang dipakai.
- Berusaha secara bertahap mendapatkan dana dari sponsor.
- Jangan terlalu ambisius dan hargailah rekan kerja.
- Jangan pernah gunakan nama suami di belakang nama (untuk perempuan) untuk hasil karya penelitian.
- Jadilah peneliti yang baik dan jangan lupa untuk membuat keturunan.