
Kalbe.co.id - Dari simposium
The Ten Topics in Rheumatology Asia yang berlangsung di Singapura beberapa waktu lalu, Prof. Amnuay Thithapandha mengemukakan mengenai penelitiannya tentang glukosamin yang ternyata masih efektif untuk penanganan osteoarthritis. Sebelum menyampaikan hasil penelitiannya Prof. Thithapandha mengatakan bahwa penelitian yang dilakukannya ini adalah penelitian yang bebas dari kaitan dengan kepentingan perusahaan farmasi manapun yang dapat menimbulkan konflik terhadap hasil penelitian.
Saat ini sudah ada dua penelitian mengenai glukosamin yang sudah terkenal, GAIT dan GUIDE. Kesimpulan keduanya saling bertolak belakang. GAIT menyimpulkan bahwa dibandingkan dengan plasebo penggunaan glukosamin dan atau kondroitin tidak terbukti memiliki efikasi yang baik, sedangkan GUIDE menyimpulkan bahwa glukosamin sulfat dengan dosis 1.500 mg sehari dapat menjadi obat simtomatis dalam penatalaksanaan osteoarthritis (OA) lutut.
Glukosamin (
2-amino-2-deoxyglucose) adalah suatu senyawa dengan berat molekul 179,17 dan bersifat basa dengan pKa=7,9 dan titik leleh 88oC. Glukosamin memiliki kelarutan yang baik di air dan memiliki dua bentuk kristal solidnya yang anisotropik. Bentuk alfa (a) berada dalam bentuk kristal dan beta (ß) berbentuk seperti jarum.
Glukosamine di dalam tubuh akan diubah menjadi proteoglikan untuk kemudian berperan di dalam pembentukan kartilago sendi. Awalnya glukosamin dengan perantaraan enzim G6PS (glucosamine 6 phosophate synthetase) akan membentuk glucosamine 6 phosphate. Dari glucosamine 6 phosphate akan dibentuk asam hialuronat dan keratan sulfat. Keratan sulfat bersama dengan chondrotin sulphate dan protein tubuh lainnya akan membentuk monomer agregan.
Pada tahap selanjutnya monomer agregan dengan asam hialuronat akan membentuk proteoglikan, yang dengan bantuan kolagen akan membentuk kartilago.
Dari penelitian yang diterbitkan pada tahun 1985 di
Lancet, yang ditulis oleh Newman NM & Ling RS yang berjudul
Acetabular bone destruction related to NSAIDs, dikatakan bahwa obat antiinflamasi non steroid adalah obat simtomatis OA yang paling umum, namun memiliki efek samping yang sangat besar dan bahkan mungkin dapat memperburuk proses osteoarthritis itu sendiri.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Prof. Amnuay Thithapandha ini bisa dibilang sedikit mendukung pendapat tersebut, karena ternyata dari penelitian beliau, terungkap bahwa OAINS sendiri dapat menghambat kerja dari glukosamin sebagai bahan dasar pembentukan kartilago. Mengapa demikian? Ternyata dalam proses pembentukan glikosaminoglikan, glukosamin membutuhkan enzim
glucosamine 6 phosphat syntetase.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan glukosamin masih efektif untuk penanganan osteoarthritis asalkan bebas dari pengaruh obat antiinflamasi non steroid.