
Kalbe.co.id - Seperti diketahui bersama stroke merupakan suatu penyakit yang mempunyai pengaruh baik terhadap medis klinis maupun dari sisi ekonomi. Stroke merupakan penyakit utama ketiga penyebab kematian, penyebab disabilitas atau ketidakmampuan jangka panjang, dan merupakan alasan utama perawatan di rumah. Di Spanyol diperkirakan insidensi troke mencapai 1,5 sampai 2,9 kasus per 1.000 pertahun. Di beberapa negara Eropa, biaya perawatan penyakit stroke diperkirakan mencapai 3 – 5% dari anggaran kesehatan tahunan dan juga dikarenkan populasi geriatri diperkirakan semakin meningkat maka perkiraan biaya untuk penanganan penyakit-penyakit kronik termasuk dalam hal ini penyakit stroke diperkirakan ikut meningkat pada masa-masa mendatang.
Terapi trombolitik dengan rT-PA merupakan terarpi yang disetujui untuk penanganan stroke iskemik akut, namun biasanya beberapa studi menyebutkan terapi trombolitik ini memberikan efek terapi yang maksimal jika diberikan dalam waktu “therapeutic window” atau sekitar kurang dari 6 jam setelah onset stroke iskemik. Oleh karenanya pada kasus stroke ini sering diberikan terapi yang merupakan suatu
neuroprotektor yang tentunya mempunyai potensi dalam mengkoreksi gangguan dalam derajat seluler, biokimia, serta efek metabolik pada pasien dengan jejas sel-sel saraf akibat iskemik serta efek-efek pleiotrofik lainnya. Citicoline (CPD-choline) merupakan salah satu neuroprotektor yang mempunyai potensi sebagai prekrusor kolin yang dimetabolisme setelah dikonsumsi menjadi bentuk fosfatidilklin, yang merupakan komponen utama dari membran sel saraf. Citicoline ini diperkirakan mampu mengurangi dampak pada sel-sel saraf setelah terjadi jejas akibat iskemik dengan cara stabilisasi membran sel, menurunkan pembentukan radikal bebas, menurunkan lemak teroksidasi yang bersifat toksik serta memfasilitasi perbaikan fungsi sel-sel saraf akibat iskemik dengan memperbaiki sinaps saraf, serta meningkatkan plastisitas sel-sel saraf.
Saat ini citicoline dipergunakan pada sekitar 50 negara untuk penanganan stroke, trauma kepala, serta gangguan neurologis lainnya. Delapan studi dengan disain RCT, dan dua meta-analisis yang meliputi sebanyak 2.063 pasien memberikan hasil bahwa citiocoline memberikan hasil yang positif dalam penggunaan citicoline ini. Dalam meta-analisis diketahui bahwa citicoline mampu menurunkan angka kematian dan ketidakmampuan jangka panjang sebesar 10% – 12%, walapun tidak ada studi individual yang menunjukkan manfaat sebanding dengan hal tersebut.
Walaupun banyak banyak studi secara klinis yang dipublikasikan dan memberikan manfaat yang bermakan dalam memperbaiki neuron pasca stroke iskemik, namun sangat sedikit studi tentang citicoline yang dalam hubungannya dengan farmakoekonomi. Salah satu studi tentang farmakoekonomi dari citicoline ini adalah yang membandingkan dengan plasebo ataupun terapi konvensional pada pasien dengan stroke akut. Studi ini dengan parameter-parameter yang diukur diantaranya adalah: perbedaan biaya, perbedaan efektivitas, rata-rata rasio efektivitas dengan biaya, dan inkrimental efektvitas dan biaya yang dihitung dengan rumus:
Cost of citicoline – Cost of conventional therapy
Incremental of Effectiveness Citicoline – Effectiveness of Conventional TherapyData diambil dari berbagai sumber termasuk
Medline, Cochrane, dsb. mulai tahun 1996, sampai Desember 2005. Diperoleh 4 studi dengan subyek yang cukup banyak (> 100 subyek), dan total; subyek dari studi yang diperoleh adalah 1048 pasien yang mendapat citicoline dan sebesar 773 subyek yang mendapat plasebo. Dari analisis pool diperoleh bahwa 1.652 subyek masuk dalam analisis, dan sebanyak 280 subyek tidak memenuhi syarat inklusi. Sebanyak 1.372 yang dilakukan evaluasi dengan 789 subyek mendapat citicoline dan 583 mendapat plasebo.
Dari studi ini menunjukkan bahwa pemberian citicoline pada pasien stroke iskemik akut memberikan efek 99 atau 50 pasien lebih banyak yang membaik pada setiap 1.000 pasien, dengan rata-rata biaya antara masing-masing citicoline dan plasebo adalah 101,2 euro vs 126,4 euro per pengobatan pada setiap pasiennya. Jadi pada stroke iskemik akut menunjukkan bahwa pengobatan dnegan plasebo lebih mahal dan kurang efektif jika dibandingkan dengan citicoline baik pada pasien rawat inap maupun rawat jalan.