Terapi Antifibrinolitik : Perbaiki Kualitas Hidup Pasien Menoragia

Menoragia merupakan masalah yang sering dialami wanita di usia reproduktif. Kondisi ini seringkali dirasakan sangat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Terapi antifibrinolitik, yaitu dengan asam traneksamat, menawarkan solusi medis bagi penderita menoragia. Terapi asam traneksamat terbukti efektif (memiliki efikasi lebih dari terapi medis lainnya seperti AINS dan noretisteron) dan aman (tidak ditemukan peningkatan risiko penyakit trombogenik) untuk mengatasi masalah menoragia.

Menoragia umum terjadi pada wanita usia reproduktif. Sekitar 30% wanita mengeluh adanya 'mens'yang berat, dan setiap tahun sekitar 5% wanita mencari pertolongan medis akibat perdarahan menstruasi berat.1 Meskipun pada sebagian besar pasien tidak ditemukan kelainan yang mendasarinya, namun gangguan kualitas hidup yang ditimbulkan, dirasakan sangat mengganggu membuat pasien bersedia menjalani serangkaian pengobatan bahkan terapi bedah untuk mengurangi (jika tidak dapat menghilangkan) masalah tersebut.2

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) merekomendasikan untuk mengawali terapi menoragia dengan terapi medis, dan terapi antifibrinolitik dengan asam traneksamat termasuk terapi pilihan pertama.3 Terapi asam traneksamat telah terbukti memiliki efikasi dan keamanan yang baik. Asam traneksamat merupakan inhibitor dari enzim aktivator plasminogen, enzim yang ditemukan meningkat kadarnya pada endometrium wanita dengan perdarahan menstruasi hebat dibandingkan wanita dengan perdarahan menstruasi normal.4

Sebuah studi dilakukan John Bonnar dkk untuk membandingkan efikasi dan tolerabilitas etamsilat, asam mefenamat, dan asam traneksamat untuk terapi menoragia. Studi acak, kontrol yang melibatkan 76 pasien ini memperlihatkan terapi dengan asam traneksamat dapat menurunkan darah yang hilang sebesar 54% (rata-rata 164 ml sebelum terapi menjadi 75 ml selama terapi), dibanding terapi asam mefenamat yang hanya 20% (rata-rata 186 ml sebelum terapi menjadi 148 mL selama terapi), dan terapi etamsilat yang tidak terlihat menurunkan jumlah rata-rata darah yang hilang. Tolerabilitas terhadap terapi (ditunjukkan dengan kesediaan pasien untuk melanjutkan terapi setelah berakhirnya masa studi) juga lebih besar terlihat pada terapi asam traneksamat (77%) dibandingkan asam mefenamat (74%) dan etamsilat (33%). 5

Dari ulasan Cochrane (Cochrane Review) juga diperlihatkan terapi antifibrinolitik menyebabkan penurunan bermakna pengukuran objektif perdarahan menstruasi jika dibanding plasebo atau terapi medis lainnya (AINS, progestogen fase luteal oral, dan etam­silat), tidak adanya peningkatan efek samping bila dibandingkan plasebo, AINS, progestogen fase luteal oral atau etamsilat, perbaikan kualitas hidup dalam hal mengurangi gangguan menstruasi serta memperbaiki kehidupan seksual (jika dibandingkan progesto­gen), dan efektivitas asam traneksamat yang lebih baik dari AINS atau progestogen oral.4,6,7

Bila dibandingkan khusus dengan terapi hormon, dalam hal ini noretisteron, beberapa studi menunjukkan efektivitas asam traneksamat yang lebih baik. Penggunaan terapi hormon (yang cukup banyak digunakan untuk terapi menoragia) ternyata didasarkan pada anggapan yang salah bahwa menoragia disebabkan adanya ketidakseimbangan hormonal sedangkan pada sebagian besar wanita dengan menoragia ternyata tidak didapatkan adanya gangguan hormonal. Hal ini terlihat pada sebuah studi komparatif dimana pengobatan menoragia ovulatoar dengan asam traneksamat dapat menurunkan jumlah rata-rata darah yang hilang sebesar 45% sedangkan noretisteron malah meningkatkan perdarahan sebesar 20%.5,8

Sedangkan mengenai efek samping, studi-studi jangka panjang di Swedia memperlihatkan tidak adanya peningkatan risiko penyakit trombogenik, dimana insidens trombosis pada wanita yang diterapi dengan asam traneksamat ternyata tidak berbeda dengan kejadian tromboemboli spontan yang menimpa wanita pada umumnya.4,5

 

Kepustakaan:
1. Philipp CS, Faiz A, Dowling N, et al. Age and prevalence of bleeding disorders in women with menorrhagia. Obstetrics & Gynecology 2005;105(1):61-66. 2. Stirrat GM. Choice of treatment for menorrhagia. The Lancet 1999;353:2175-2176. 3. RoyalCollege of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). National Evidence-Based Clinical guidelines. The initial management of menorrhagia. Available at: http://www.rcog.org.uk/guidelines.asp?PageID=108&GuidelineID=28 4. Lethaby A, Farquhar C, Cooke I. Antifibrinolytics for heavy menstrual bleeding (Cochrane Review). Abstract. From The Cochrane Library, Issue 4, 2004. 5. Bonnar J, Sheppard BL. Treatment of menorrhagia during menstruation: randomized controlled trial of ethamsylate, mefenamic acid, and tranexamic acid. BMJ 1996:313:579-582. 6. Lethaby A, Augood C, Duckitt K. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs for heavy menstrual bleeding. Citation 8. Cochrane Database of Systematic Reviews. 4, 2004. 7. Lethaby A, Irvine G, Cameron I. Cyclical progestogens for heavy menstrual bleeding. Citation 17. Cochrane Database of Systematic Reviews. 4, 2004. 8. Preston JT, Cameron IT, Adams EJ, Smith SK. Comparative study of tranexamic acid and norethisterone in the treatment of ovulatory menorrhagia. Br J Obstet Gynaecol 1995;102(5):401-406.

Calendar of Events