Dear Shareholders,
Kalbe is rapidly making the transition from being a producer of pharmaceutical, health food and packaging products for the Indonesian market to being a global provider of a full range of products and value-added services that assist consumers around the world to achieve a higher quality of life. Given theenvironment in which the Company operates, this evolution is not only desirable, it is essential.
Normally, the pharmaceutical market in Indonesia grows at2 - 3 times the rate of GDP growth. In 2005, factors such as reduced consumer purchasing power, high inflation rates and the depreciation in the value of the Rupiah contributed to the fact that the industry grew at a slightly slower rate than in previous years, expanding at the rate of 13.5% to a total value of Rp. 23.608 trillion.
It should be noted that while the majority of raw materials for the industry are imported, and therefore vulnerable to effects of depreciation in the value of the Rupiah, the ability of the pharmaceuticals industry to increase the price of its products is constrained by consumers’ ability to pay. Therefore, price increases are usually less than the inflation rate. With the depreciation in the value of the Rupiah against US Dollar over 2005 of 5.81%, from Rp. 9,290 at the end of 2004 to Rp. 9,830 at the end of 2005, and an inflation rate of 17.11%, the competitive pressures on players in the pharmaceutical industry were considerable.
On the other hand, there were a number of positive developments affecting the industry as a whole. In early 2005, the Indonesian Government implemented a policy to extend medical, work-related accident, pension and life insurance coverage to all Indonesians through the National Social Security System. This will improve the health and well-being of Indonesian consumers by providing increased access to necessary treatments, including a full range of pharmaceutical products.
The Government also conducted a review on the pricing policies for essential drugs and branded generics. In the face of challenging circumstances, Kalbe recorded excellent performance in 2005, with revenues from sales reaching Rp. 5.87 trillion, representing an increase of 16.42% over the previous year, when the figure stood at Rp. 5.04 trillion.
Net income reached Rp. 653.33 billion in year 2005 and Rp. 450.70 billion in year 2004, or an increase of 44.96%.
Throughout the year, Kalbe took a number of significant steps to ensure that the Company will remain competitive and profitable in the evolving environment in which it operates.
Most significantly, on December 16, 2005, the management of Kalbe effected the merger of Dankos and Enseval into the company to create the largest publicly listed pharmaceutical company in Southeast Asia.
Kalbe continued to enter into strategic alliances with international partners to facilitate its ability to offer an expanded range of increasingly complex and valuable products to its consumers. In addition, it has made significant steps towards its goal of becoming an innovator and creator of new products which it can produce directly or license to third parties, both through co-development programs and on its own initiative.
As part of its endeavor to provide a full range of related valueadded services that assist Indonesians and other consumers to achieve a higher quality of life, Kalbe has stepped up its Direct-to-Customer program, a program that provides support and information to the users of a range of the Company's products.
All of these developments will ensure that Kalbe meets its goal of becoming an internationally competitive provider of products and valueadded services that assist consumers around the world to achieve better health and a higher quality of life.
The Board of Commissioners would like to express its gratitudeand appreciation to the Board of Directors, employees, suppliers,debt holders and licensors for the trust,support, hard work and dedication that has assured this Company's success and that will assure its future growth.
Para Pemegang Saham yang Terhormat,
Kalbe sedang melakukan transisi cepat dari produsen farmasi, makanan kesehatan, serta produk kemasan untuk pasar Indonesia menuju pemain global yang memproduksi bermacam-macam produk serta layanan bernilai tambah yang akan membantu para konsumen di seluruh dunia mencapai taraf kualitas hidup yang lebih tinggi. Dengan situasi dimana Perseroan sekarang beroperasi, evolusi tersebut tidak lagi hanya sebuah keinginan, namun sudah menjadi keharusan.
Pasar farmasi di Indonesia secara normal tumbuh 2-3 kali lebih cepat daripada pertumbuhan GDP. Pada tahun 2005, dikarenakan faktor-faktor seperti berkurangnya daya beli masyarakat, tingginya inflasi serta depresiasi nilai Rupiah, maka industri farmasi dalam negeri berkembang sedikit lebih lambat daripada tahun sebelumnya, yaitu meningkat sebanyak 13,2% atau mencapai total nilai penjualan sebesar Rp 23,608 triliun.
Perlu diperhatikan bahwa walaupun industri ini mengimpor sebagian besar bahan baku-nya, yang mengakibatkan kerentanan menghadapi depresiasi nilai Rupiah, namun kemampuan para pemain industri farmasi ini untuk meningkatkan harga produk obat mereka sangat dibatasi oleh daya beli masyarakat yang rendah. Dengan demikian, kenaikan harga biasanya lebih rendah daripada tingkat inflasi. Dengan depresiasi nilai Rupiah terhadap Dollar Amerika di tahun 2005 sebesar 5,81%, dari Rp 9.290 pada akhir tahun 2004 sampai ke tingkat Rp 9.830 pada akhir tahun 2005, serta tingkat inflasi mencapai 17,11%, maka tekanan bagi para pemain industri farmasi tersebut memang cukup berat.
Namun di sisi lain dari industri ini dapat dicatat berbagai perkembangan positif. Pada awal tahun 2005, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan yang memperluas cakupan asuransi medis, kecelakaan kerja, hari tua dan jiwa ke dalam Sistem Jaring Pengaman Nasional (JPNS). Kebijakan ini akan meningkatkan taraf kesehatan serta kelayakan hidup penduduk Indonesia melalui penyediaan akses yang lebih luas pada perawatan kesehatan, termasuk seluruh jenis produk-produk farmasi. Pemerintah dalam hal ini juga telah melakukan kaji ulang bagi kebijakan harga untuk obat-obatan pokok serta obat-obatan generik bermerek.
Dalam kondisi yang penuh tantangan ini, Kalbe berhasil membukukan keberhasilan finansial di tahun 2005, dengan pendapatan dari penjualan mencapai Rp 5,87 triliun, yang mencerminkan kenaikan sebesar 16,42% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 5,04 triliun. Keuntungan bersih tercatat sebesar Rp 653,33 milyar, atau naik sebesar 44,95% dari tahun sebelumnya yaitu Rp 450,70 triliun.
Selama tahun 2005, Kalbe telah menjalankan berbagai langkah-langkah strategis guna memastikan Perseroan selalu memiliki daya saing yang tinggi serta menguntungkan meskipun terjadi perubahan lingkungan bisnis. Dan langkah yang paling signifikan adalah pada tanggal 16 Desember 2005, manajemen Kalbe resmi mengumumkan penggabungan Dankos dan Enseval ke dalam Perseroan, yang menjadikannya satu perusahaan farmasi tercatat yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Kalbe melanjutkan pembentukan aliansi strategis dengan para mitra internasional guna mempermudah proses pengembangan kemampuan dalam memproduksi semakin banyak produk obat-obatan yang makin kompleks dan bernilai tinggi bagi para konsumennya. Selain itu, Perseroan melakukan langkah strategis menuju sasaran menjadi inovator serta pencipta produk baru yang dapat diproduksi langsung sendiri, atau dibawah lisensi pihak ketiga, baik melalui program penelitian bersama pihak lain ataupun dengan daya upaya sendiri.
Sebagai bagian dari upaya untuk memberikan serangkaian pelayanan bernilai tambah guna membantu penduduk Indonesia serta konsumen lain meraih taraf hidup yang lebih berkualitas, Kalbe telah menjalankan program Direct-to-Customer, dimana dukungan serta informasi mengenai berbagai produk Perseroan disediakan langsung bagi para pemakai.
Semua perkembangan ini dilakukan guna memastikan Kalbe mampu memenuhi target untuk menjadi penyedia produk serta layanan bernilai tambah yang memiliki daya saing internasional, dan mampu mendukung para konsumen di seluruh dunia mencapai taraf kualitas hidup yang lebih tinggi.
Dewan Komisaris ingin menyampaikan rasa terimakasih serta penghargaan bagi Direksi, para karyawan Perseroan, pemasok, kreditur serta pemberi lisensi untuk kepercayaan, dukungan, kerja keras dan dedikasi mereka hingga Perseroan dapat mencapai sukses saat ini dan di masa depan.