
Kalbe.co.id - Pemberian angkak, yang dikombinasikan dengan modifikasi gaya hidup bermanfaat mengurangi kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) dan tidak disertai peningkatan kreatinin fosfokinase maupun derajat nyeri. Oleh sebab itu, angkak plus modifikasi gaya hidup dapat menjadi terapi alternatif bagi pasien-pasien yang tidak bisa mentoleransi efek samping mialgia karena terapi statin. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. David J. Backer dan rekan dari Chestnut Hill Hospital, University of Pennsylvania School of Medicine, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine edisi bulan Juni 2009.
Angkak telah dikenal penduduk China sejak ratusan tahun yang lalu. Penggunaan angkak pertama kalinya didokumentasikan pada masa dinasti Tang tahun 800 sesudah Masehi. Angkak sejak dahulu digunakan untuk membuat anggur beras, digunakan sebagai pengawet untuk mempertahankan warna dan rasa daging/ikan, serta digunakan sebagai obat.
Dalam farmakopee China kuno dari Dinasti Ming (1368–1644), dicatat bahwa angkak dapat memperbaiki sirkulasi darah. Penelitian-penelitian terkini pada binatang percobaan dan pada manusia memperlihatkan bahwa angkak dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Bahkan dalam sebuah penelitian acak terkontrol, tersamar ganda dan prospektif, yang telah dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition tahun 1999, diketahui bahwa angkak terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol total, serta menurunkan kolesterol LDL.
Dr. David J. Backer dan rekan melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui efektifitas dan tolerabilitas angkak plus modifikasi gaya hidup sebagai terapi pada pasien-pasien dislipidemia yang intoleran terhadap terapi statin karena efek samping mialgia. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian acak terkontrol, dan melibatkan 62 pasien dislipidemia yang berhenti menggunakan statin karena efek samping mialgia. Pasien secara acak dibagi menjadi 2 kelompok: Kelompoik I (n=31 pasien) menerima terapi angkak 1.800 mg, 2 kali sehari; dan Kelompok II (n=31 pasien) diberikan plasebo, dua kali sehari. Terapi diberikan selama 24 minggu. Selain itu, pasien menjalani program modifikasi gaya hidup selama 12 minggu. Outcome primer adalah kadar kolesterol LDL pada titik awal (baseline), minggu ke-12 dan pada minggu ke-24. Outcome sekunder meliputi kadar kolesterol total, kadar kolesterol HDL (high-density lipoprotein), kadar trigliserida, kadar enzim hati dan kadar kreatinin fosfokinase, berat badan, serta penilaian skor Brief Pain Inventory.
Selain itu kelompok I juga mengalami perbaikan kadar kolesterol lebih baik secara bermakna dibandingkan dengan kelompok II (dengan p<0,001 pada minggu ke-12 dan p = 0,016 pada minggu ke-24). Kadar kolesterol HDL, trigliserida, kadar enzim hati, kreatinin fosfokinase, penurunan berat badan dan skor derajat nyeri tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok, baik pada minggu ke-12 maupun pada minggu ke-24.
Para ahli dalam penelitian ini mengatakan bahwa angkak dan modifikasi gaya hidup dapat menurunkan kadar kolesterol LDL tanpa meningkatkan kadar kreatinin fosfokinase maupun meningkatkan nyeri. Terapi angkak plus modifikasi gaya hidup dapat menjadi terapi alternatif terapi bagi pasien-pasien yang tidak dapat mentoleransi efek samping mialgia karena terapi statin. Karena penelitian ini melibatkan jumlah pasien yang sedikit, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan pasien yang lebih banyak untuk memberikan data yang lebih banyak mengenai efektifitas angkak sebagai terapi bagi pasien dislipidemia.
Terapi angkak plus modifikasi gaya hidup dapat menjadi terapi alternatif bagi pasien-pasien dislipidemia yang tidak dapat mentoleransi efek samping mialgia karena terapi statin.